Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Barat, Muhammad Noval dalam Sensus Ekonomi di kawasan setempat, Jumat (26/6/2026). Foto: ANTARA
KabarJakarta.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Barat kembali menjalankan program Kelurahan Cinta Statistik (Cantik) pada 2026. Tahun ini, program tersebut menyasar tiga kelurahan, yakni Srengseng, Kebon Jeruk, dan Rawa Buaya.
Kepala BPS Jakarta Barat Muhammad Noval menjelaskan, pelaksanaan program Kelurahan Cantik tahun ini menjadi tahun keempat. Pembinaan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan aparatur kelurahan dalam mengelola dan memanfaatkan data statistik.
“Tahun ini tahun keempat, kita sasar tiga kelurahan, yakni Srengseng, Kebon Jeruk, dan Rawa Buaya,” kata Noval di Jakarta, Selasa (18/8).
Menurut Noval, program tersebut tidak hanya berfokus pada kegiatan pendataan. BPS juga mendorong perangkat kelurahan agar mampu menggunakan data yang tersedia untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan pembangunan di wilayah masing-masing.
Ada 3 (tiga) tujuan utama yang ingin dicapai melalui program tersebut. Pertama, meningkatkan kemampuan aparatur kelurahan dalam melaksanakan kegiatan statistik. Kedua, mendorong pemanfaatan data yang sudah tersedia agar lebih berdaya guna. Ketiga, meningkatkan literasi statistik, mulai dari membaca, memahami hingga menyajikan data.
“Kedua, supaya bisa memanfaatkan data-data di kelurahan agar lebih berdaya guna dan bermanfaat. Ketiga, meningkatkan literasi statistik, seperti cara membaca dan memahami hingga menyajikan data statistik,” ujarnya.
BPS Jakarta Barat juga tidak memberikan materi pembinaan yang sama kepada setiap kelurahan. Tema yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan dan persoalan yang dianggap penting di masing-masing wilayah.
Untuk Rawa Buaya, pembinaan difokuskan pada pendataan kelompok penyandang disabilitas. Sementara itu, Srengseng mengangkat tema bank sampah dan Kebon Jeruk memilih isu penanganan stunting.
“Untuk Kelurahan Rawa Buaya, kita mengangkat tema tentang kelompok disabilitas. Kelurahan Srengseng tentang bank sampah, dan Kebon Jeruk tentang penanganan stunting,” tutur Noval.
Di Rawa Buaya, pendataan warga penyandang disabilitas diharapkan akan meningkatkan perhatian dan kepedulian masyarakat. Data yang tersusun dengan baik juga dapat memperlihatkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan kelompok disabilitas di wilayah tersebut.
“Melalui data, masyarakat luas jadi tahu bahwa di Rawa Buaya terdapat kelompok disabilitas, beserta berbagai kegiatan yang sudah mereka lakukan,” katanya.
Noval berharap data tersebut dapat membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas, termasuk dukungan dari masyarakat maupun pihak lain.
“Masyarakat atau pihak lain yang mau berpartisipasi atau memberi bantuan, bisa bergerak secara tepat sasaran,” ujarnya.
Sementara di Srengseng, pendataan bank sampah diarahkan untuk mengetahui jumlah unit, kapasitas pengolahan, hingga manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat.
Adapun di Kebon Jeruk, pendataan stunting dilakukan untuk menunjukkan bahwa persoalan tersebut masih ada di kawasan perkotaan dan pusat aktivitas bisnis.
“Kebon Jeruk, kan, kawasan perkotaan dan area bisnis, kenyataannya kasus stunting masih ada. Data nanti disajikan untuk membuka mata publik dan pemerintah, kalau masalah ini perlu perhatian khusus,” tegas Noval.
Data tersebut diharapkan dapat mendorong keterlibatan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun bantuan lainnya untuk mendukung penanganan stunting.
Seluruh hasil pendataan nantinya akan dikemas dalam berbagai bentuk agar mudah dipahami masyarakat.
“Seluruh data dari kelurahan-kelurahan akan dikemas dan disajikan dalam bentuk infografis, profil wilayah, hingga penerbitan majalah kelurahan,” jelas Noval.
Melalui program Kelurahan Cantik, BPS Jakarta Barat berharap data tidak berhenti sebagai angka, tetapi dapat menjadi dasar pengambilan keputusan sekaligus membantu masyarakat melihat persoalan di lingkungannya secara lebih jelas.

2 hours ago
12










































.jpeg)






