jpnn.com - Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah menyebutkan ada tantangan besar pembangunan perumahan di Indonesia.
Menurut dia, masalah terbesar dalam pembangunan perumahan saat ini adalah harga tanah yang jauh lebih mahal daripada biaya membangun rumah.
Hal itu dia katakan dalam pembukaan rangkaian pameran internasional Homelife Indonesia Series 2025, di JIEXPO Kemayoran, pada Rabu (26/11).
“Ditambah lagi, proses perizinan yang panjang membuat pembangunan hunian menjadi lambat. Industri bahan bangunan kita juga masih menghadapi kendala harga dan ketersediaan material yang belum stabil,” ucap Fahri.
Fahri juga menekankan pentingnya pembelajaran dari negara lain termasuk China yang membangun dan memproduksi barang dengan sangat cepat.
“Dari sini, kita bisa belajar bagaimana mempercepat pembangunan perumahan di Indonesia dengan memperbaiki proses, memperkuat industri bahan bangunan, dan meningkatkan kolaborasi,” kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pakar IKA ITT-STTT Elis Masitoh menyebutkan bahwa pembangunan ekonomi nasional sangat bergantung pada kekuatan sektor industri, termasuk Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang menjadi sektor prioritas pemerintah.
Industri TPT telah memainkan peran penting dalam penyerapan tenaga kerja, kontribusi ekspor, dan pemenuhan kebutuhan sandang masyarakat.






















































