jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menjamin seluruh pengobatan korban kecelakaan kereta api jarak jauh dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, ditanggung pemerintah.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mewakili Pemprov Jabar menyampaikan duka cita atas insiden kecelakaan yang menewaskan 14 orang penumpang kereta tersebut.
"Saya menyampaikan luka yang mendalam atas musibah tertabraknya KRL Jakarta - Kabupaten Bekasi, khusus pengangkut penumpang perempuan oleh kereta api cepat Argo Bromo Anggrek Jakarta - Surabaya," kata Dedi dikutip dari akun Instagram pribadinya, Selasa (28/4/2026).
"KRL tersebut berhenti disebabkan karena adanya taxi listrik yang mogok di lintasan rel kereta api, sehingga menimbulkan korban meninggal dunia dan dirawat di rumah sakit, dan masih ada empat orang yang belum bisa dievakuasi dalam keadaan terjepit," lanjutnya.
Dedi menuturkan, puluhan korban yang luka-luka sudah mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Pemerintah pun menanggung seluruh biaya pengobatan para korban tabrakan kereta ini.
"Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Barat, menanggung seluruh biaya perawatan rumah sakit pada semua korban yang dirawat," ujarnya.
Selain itu, korban tewas yang sampai saat ini terdata 14 orang, keluarganya akan menerima santunan kematian dengan besaran nominal Rp50 juta.
"Yang kedua, akan memberikan santunan kepada yang meninggal masing-masing Rp50 juta," ucap dia.
"Semoga peristiwa musibah ini adalah peristiwa yang terakhir, untuk itu mohon doa pada seluruh warga Jawa Barat agar keluarga korban ditabahkan dan mendapat kesabaran menghadapi musibah yang dialami ini," pungkasnya. (mcr27/jpnn)


















































