jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Pengelola Pasar Induk Caringin sampai hari ini masih berupaya mengolah sampah bekas pedagang secara mandiri.
Sebuah tempat pengolahan sampah berkapasitas puluhan ton kini jadi titik akhir sampah organik dari para pedagang.
Kepala Badan Pengelola Pusat Perdagangan Caringin Bandung (BP3C) Asep A Syarief Hidayat mengatakan, sampah yang menggunung itu jumlahnya sekitar 100 ton, didominasi oleh jenis organik.
Ia menjelaskan, penumpukan sampah di TPS Pasar Caringin terjadi akibat pembatasan ritase pengangkutan ke TPA Sarimukti. Menurutnya, kondisi tersebut memicu akumulasi sampah yang tidak seluruhnya terangkut.
"Biasanya sembilan rit, sekarang hanya tiga rit. Otomatis ada sisa yang menumpuk di TPS," kata Aep di Pasar Induk Caringin, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Aep mengakui sudah menerima peringatan keras dari Menteri Lingkungan Hidup terkait potensi sanksi, termasuk sanksi pidana, jika pengelolaan sampah tidak segera dibenahi.
Namun ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan karena kelalaian pengelola, tetapi akibat persoalan di hilir, yakni keterbatasan kapasitas dan ritase di TPA Sarimukti.
"Masalahnya bukan keterlaluan kami dalam mengelola, tapi di hilir. Sarimukti dibatasi, jadi kami harus berupaya dengan segala cara," tuturnya.

















































