jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Eskalasi ketegangan di Timur Tengah pada tahun ini bukan sekadar konflik wilayah, melainkan ujian berat bagi ketangguhan ekonomi Indonesia. Lonjakan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga ancaman inflasi impor kini membayangi target pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, para ahli mengingatkan bahwa respons kebijakan pemerintah akan menjadi penentu. Apakah Indonesia mampu bertahan atau justru terjebak dalam krisis yang lebih dalam?
Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yudistira Hendra Permana menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah perang terbuka secara fisik, melainkan ketidakpastian absolut.
"Dinamika geopolitik sekarang diwarnai manuver dan tekanan saling uji antarnegara. Kondisi ini menciptakan ruang ketidakpastian yang sulit diantisipasi. Respons kebijakan yang tergesa-gesa justru bisa memperbesar risiko," ujar Yudis pada Selasa (7/4).
Indonesia kini menghadapi fenomena cost-push inflation, di mana kenaikan harga barang bukan disebabkan oleh tingginya permintaan, melainkan meroketnya biaya produksi.
Menurut Yudistira, perang membuat kenaikan harga global langsung memukul sektor riil. Gangguan pasokan dan ongkos produksi mendorong harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, masyarakat yang belum pulih sepenuhnya harus menanggung beban harga yang makin berat.
Kondisi ini tercermin dalam sikap para pelaku usaha. Hasil survei industri menunjukkan tren kehati-hatian (caution) yang tinggi. Banyak pengusaha memilih menahan ekspansi dan investasi karena ekspektasi ekonomi beberapa bulan ke depan yang cenderung pesimistis.

















































