GREAT Institute Menilai RAPBN 2027 Menunjukkan Arah Kebijakan Ekonomi, Diuji Dua Hal

2 hours ago 22

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, mengatakan pidato Nota Keuangan memperlihatkan konsistensi paradigma ekonomi pemerintahan Prabowo. Foto dok. GREAT Institute

jpnn.com, JAKARTA - Target pertumbuhan ekonomi enam persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027 dinilai menjadi ujian besar bagi pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas belanja hingga defisit fiskal.

GREAT Institute menilai RAPBN 2027 menunjukkan arah kebijakan ekonomi yang semakin tegas. Anggaran negara tidak lagi sekadar ditempatkan sebagai instrumen pembiayaan, tetapi diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi, memperbaiki layanan dasar, menekan kebocoran, meningkatkan efisiensi belanja, serta memastikan pertumbuhan ekonomi lebih nyata dirasakan masyarakat.

Penilaian tersebut disampaikan setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Keterangan Pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira mengatakan pidato Nota Keuangan tersebut memperlihatkan konsistensi paradigma ekonomi pemerintahan Prabowo, yakni menempatkan negara sebagai aktor aktif dalam memperbaiki pasar dan mendorong sektor-sektor produktif.

“Negara harus kuat, tetapi bukan berarti pasar dimatikan. Justru pasar yang sehat membutuhkan negara yang mampu menyediakan data yang baik, aturan yang jelas, pengadaan yang efisien, infrastruktur dasar, pasar modal yang kredibel, dan perlindungan bagi rakyat,” ujar Adrian dalam keterangannya, Sabtu (15/8).

Menurut Adrian, salah satu hal paling menarik dari RAPBN 2027 adalah upaya pemerintah menjalankan tiga agenda sekaligus mengejar pertumbuhan lebih tinggi, mempertahankan belanja yang ekspansif, dan tetap menjaga defisit.

Pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp 3.426 triliun, belanja negara Rp 4.097,2 triliun, dan pembiayaan Rp 671,2 triliun. Defisit dirancang sebesar 2,40 persen terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan defisit APBN 2026 yang sebesar 2,68 persen.

Dengan asumsi PDB 2027 sekitar Rp 27.987 triliun, belanja negara setara sekitar 14,6 persen PDB, sedikit lebih rendah dibandingkan 14,94 persen dalam APBN 2026.

GREAT Institute menilai RAPBN 2027 menunjukkan arah kebijakan ekonomi yang semakin tegas, diuji pada dua hal ini

Read Entire Article
| | | |