jpnn.com, JAKARTA - Hilirisasi bauksit dinilai tidak hanya mendorong peningkatan nilai tambah mineral, tetapi juga membuka peluang pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) di Indonesia.
Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan pengembangan LTJ menjadi salah satu peluang yang dapat dioptimalkan dari proses hilirisasi mineral, termasuk melalui pemanfaatan mineral ikutan dan produk samping.
Menurut dia, potensi LTJ dapat ditemukan pada berbagai sumber, baik mineral alami maupun sumber non-konvensional seperti residu bauksit, terak nikel, hingga produk samping pengolahan timah.
“Jika Indonesia mampu memisahkan LTJ dari mineral ikutannya secara ekonomis dan efisien, sesungguhnya Indonesia sudah menjadi negara pengolah LTJ,” ujar Dany.
Dia mengatakan pengembangan LTJ membutuhkan dukungan regulasi yang memberikan kepastian, khususnya terkait status unsur LTJ yang ditemukan sebagai mineral ikutan dengan kadar rendah.
Dany menilai perlu ada ambang batas kandungan yang jelas dan proporsional untuk membedakan LTJ sebagai mineral utama dan unsur ikutan dalam komoditas ekspor.
Kepastian tersebut penting karena keberadaan LTJ dalam kadar rendah tidak otomatis membuat suatu komoditas layak diekstraksi menjadi produk LTJ.
“Unsur seperti serium dan lantanum, misalnya, dapat ditemukan hingga satuan part per million (ppm),” kata dia.


















































.jpeg)


