jpnn.com - WASHINGTON – Tentara Israel pada Rabu (8/4) melancarkan serangan udara besar-besaran di daerah Dahiyeh, sebelah selatan Beirut, Lebanon.
Serangan tentara Israel tersebut tercatat sebagai "gelombang terbesar" sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, pada 2 Maret lalu.
Dilaporkan, jumlah korban tewas akibat serangan Israel sebanyak 254, termasuk 92 di Beirut.
Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu (8/4) mengatakan penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dan menyebut isu tersebut sebagai “kesalahpahaman”.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa penghentian konflik di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan karena keterlibatan kelompok Hizbullah.
Donald Trump menilai situasi di negara itu merupakan bagian dari “bentrokan terpisah.”
“Saya pikir ini berasal dari kesalahpahaman yang wajar. Saya pikir pihak Iran mengira bahwa gencatan senjata mencakup Lebanon, padahal tidak. Kami tidak pernah membuat janji itu,” kata Wapres AS DJ Vance kepada wartawan sebelum bertolak ke Hungaria.
“Kami tidak pernah mengindikasikan bahwa itu akan terjadi. Yang kami katakan adalah bahwa gencatan senjata akan difokuskan pada Iran dan pada sekutu Amerika, yaitu Israel dan negara-negara Arab Teluk,” sambungnya.





















































