jpnn.com, BALI - Laptop berbasis Chromebook yang diberikan pemerintah pusat ke sekolah dasar dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa.
Keterbatasan akses sistem dan ketergantungan pada akun belajar membuat perangkat tersebut jarang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Hal ini dirasakan SD Negeri 1 Gunaksa dan SD Negeri 1 Takmung di Kabupaten Klungkung, Bali.
Meski menerima masing-masing 15 unit Chromebook sejak 2020, pemanfaatannya sangat terbatas.
Kepala SD N 1 Gunaksa, Wayan Agus Kabiana, menjelaskan bahwa Chromebook berbeda jauh dengan laptop berbasis Windows atau macOS yang lebih fleksibel digunakan untuk pembelajaran dasar.
“Chromebook ini aksesnya sangat terbatas. Untuk siswa SD, tidak bisa bebas digunakan seperti laptop biasa. Akhirnya hanya dipakai untuk ANBK dan sesekali olimpiade,” ujarnya.
Masalah lain muncul karena tidak semua siswa memiliki akun belajar.id, yang menjadi syarat utama penggunaan Chromebook.
Akibatnya, untuk kegiatan pembelajaran pun sekolah kerap menggunakan akun email milik guru.






















































