jateng.jpnn.com, SEMARANG - Tak pernah terlintas di benak Nila Dianti, pegiat teater asal Semarang menjadi pengajar akting dan ekspresi bagi beragam kalangan, mulai dari model, pencipta konten, anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) hingga penyandang disabilitas yang awam dengan seni peran.
Berangkat dari latar belakang sebagai pegiat teater kampus, Nila mengaku awalnya hanya melanjutkan aktivitasnya ke komunitas teater umum setelah lulus.
Namun, dia mulai mempertanyakan satu hal yang terus mengganjal pikirannya: mengapa teater kerap dipersepsikan sebagai seni yang eksklusif, baik bagi pelaku maupun penikmatnya.
Pandangan itu berubah ketika dirinya mulai keluar dari lingkaran teater dan berinteraksi dengan dunia hiburan lain, seperti film dan modeling.
Dari situ, Nila melihat adanya kebutuhan mendasar akan kemampuan seni peran, khususnya akting dasar berakar dari teater yang ternyata sangat relevan bagi dunia modeling.
Dia pun mulai membuka kelas akting di bawah manajemen Yume Talent and Model Semarang. Menurutnya, model tidak hanya dituntut mampu bergaya di atas panggung atau kamera, tetapi juga harus mampu mengeksplorasi ekspresi dan emosi.
“Sekarang aku mengisi kelas akting untuk model, konten kreator, anak-anak TK juga penyandang disabilitas,” ujarnya saat berbincang dengan JPNN.com, Sabtu (17/1).
Kelas akting pun dijadikan agenda rutin, baik sebagai kelas tersendiri maupun terintegrasi dalam kelas modeling.


.jpeg)













































