jpnn.com - "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sejarah adalah kelangsungan jiwa bangsa. Hanya bangsa yang menangkap petir sejarahnya sendiri yang mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri!"
— Ir. Soekarno
Lebih dari seabad yang lalu, di sebuah ruang kelas kecil dan koridor-koridor asrama School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Batavia, sebuah pemikiran radikal dan visioner sedang digodok.
Lahirnya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 bukan sekadar momentum berdirinya sebuah organisasi modern; ia adalah sebuah ledakan spiritual dan intelektual yang digerakkan oleh jemari para pemuda.
Hari Kebangkitan Nasional adalah garis demarkasi tegas yang memisahkan antara era kegelapan primordialisme kedaerahan yang terfragmentasi, menuju fajar cerah kesadaran nasional yang terunifikasi.
Pergerakan ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia dipicu oleh kegelisahan mendalam seorang dokter tua keliling, dr. Wahidin Soedirohoesodo, yang meratapi ketertinggalan dan kemiskinan bangsanya akibat ketiadaan akses pendidikan.
Gagasan Wahidin tentang Studiefonds (dana pendidikan) menyalakan api di hati para pemuda STOVIA.
Pemuda Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeradji, dan rekan-rekannya menyadari bahwa obat bagi penyakit "penjajahan" yang diderita tanah air mereka bukanlah ramuan medis, melainkan sebuah organisasi modern yang terstruktur.

















.jpeg)



































