jpnn.com, JAKARTA - Salah satu binaan PFsains 2025 kategori Implementation dari Fakultas Teknik Universitas Pancasila mengintegrasikan pertanian dengan pengelolaan sampah dan energi terbarukan 4 in 1 di Pondok Pesantren Daarul Hawariyyin, Kabupaten Bogor.
Konsep "4 in 1" merupakan integrasi aktivitas pertanian hidroponik, peternakan ayam, perikanan dan pengolahan sampah organic dalam satu sistem berbasis ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Inovator Dr. Dino Rimantho memaparkan sistem ini dirancang untuk menjawab tantangan utama pesantren.
“Sistem ini menjawab tantangan mulai dari kebutuhan pangan 25 santri dan 10 asatidz, pengelolaan sampah organik, hingga biaya operasional pesantren. Limbah organik pesantren dan kotoran ternak diolah melalui budidaya maggot BSF yang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan ikan lele serta air kolam ikan didaur ulang untuk mendukung sistem hidroponik,” ujar Dino.
"Ikan lele tersebut juga kami olah menjadi produk olahan, yakni abon lele sehingga sistem ini secara keseluruhan menciptakan proses produksi pangan yang efisien, minim limbah, dan ramah lingkungan," imbuhnya.
Dino menambahkan dalam implementasinya menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 kWp untuk penerangan lampu untuk penetasan telur ayam, penetasan telur, pompa hidroponik, mesin pencacah sampah, rotary dryer untuk maggot BSF, dan mesin press minyak maggot.
Direktur Keuangan Pertamina Foundation Tito Rahman Hidayatullah menyampaikan inovasi ini mampu membangun ekosistem kemandirian di pesantren.
“Melalui PFsains, kami ingin menghadirkan solusi nyata yang berkelanjutan dan berdampak langsung. Harapannya ini tidak hanya menciptakan kemandirian pangan, tetapi juga pusat pembelajaran kewirausahaan bagi para santri,” tutur Tito Rahman.





















































