jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Menjaga keintiman dalam hubungan jangka panjang bukan perkara mudah. Banyak pasangan merasa puas di awal hubungan, namun seiring waktu, kedekatan yang semakin familiar kerap membuat hubungan terasa monoton dan kurang spontan.
Sejumlah studi di Indonesia menunjukkan, pasangan yang telah lama menjalin hubungan sering menyebut kebosanan, rutinitas, serta rasa yang “mudah ditebak” sebagai faktor yang memengaruhi keintiman emosional dan fisik. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak pada menurunnya hasrat serta kepuasan dalam hubungan.
Menjawab fenomena tersebut, Fiesta Condoms & Lubricants meluncurkan kampanye bertajuk “XXXploration Can Be Fun”. Kampanye ini mengajak pasangan untuk menyalakan kembali rasa ingin tahu, komunikasi, serta sisi playful dalam kehidupan intim.
"Melalui kampanye ini, Fiesta mendorong pasangan untuk berani mencoba hal-hal baru dan mengeksplorasi fantasi bersama dengan cara yang menyenangkan, aman, dan konsensual," ucap Head of Marketing DKT Indonesia, Cut Vellayati, dalam keterangan tertulisnya kepada JPNN.com, dikutip Senin (9/2/2026).
Vellayati menuturkan, XXXploration juga menandai evolusi besar Fiesta, dari yang sebelumnya dikenal sebagai merek kondom, kini menjadi simbol aspiratif untuk kesenangan, petualangan, dan eksplorasi jiwa muda, baik secara fisik maupun semangat. Meski tetap mengedepankan aspek keamanan, Fiesta kini memberi penekanan lebih pada sisi fun dari keintiman.
"Kampanye ini juga ditujukan untuk menjangkau pengguna baru yang belum pernah menggunakan kondom, serta pasangan yang ingin menambah variasi dan keseruan dalam momen intim mereka," tuturnya.
Dalam hubungan jangka panjang, pasangan sering kali masuk ke rutinitas yang nyaman secara emosional. Namun tanpa disadari, hal tersebut dapat mengurangi rasa petualangan dan kegembiraan. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai relationship habituation, yakni kondisi ketika keintiman menurun bukan karena ketidakpuasan, melainkan karena terlalu terbiasa.
Studi sosiologis di Indonesia juga menunjukkan bahwa kualitas dan frekuensi keintiman pasangan dapat berubah seiring waktu, dipengaruhi oleh pola komunikasi, tekanan aktivitas sehari-hari, serta minimnya interaksi yang bersifat playful.



















































