jpnn.com - Daya beli masyarakat merupakan salah satu indikator paling penting dalam menilai kesehatan, stabilitas, dan arah pembangunan perekonomian suatu negara.
Ketika daya beli menguat, konsumsi rumah tangga meningkat, permintaan terhadap barang dan jasa tumbuh, sektor produksi bergerak, dan lapangan kerja tercipta.
Sebaliknya, ketika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi kehilangan mesin utamanya, dan tekanan sosial-ekonomi cenderung meningkat.
Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, daya beli juga menjadi barometer utama apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh rakyat atau hanya tercermin dalam statistik makro.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan porsi di atas 50 persen.
Artinya, kekuatan ekonomi nasional sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam membelanjakan pendapatannya.
Oleh karena itu, menjaga dan meningkatkan daya beli bukan sekadar isu ekonomi, melainkan juga agenda strategis negara yang berkaitan langsung dengan stabilitas sosial, legitimasi pembangunan, dan keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang.
Dalam beberapa waktu terakhir, terutama di wilayah kampung, desa, dan kawasan peri-urban, daya beli masyarakat menunjukkan gejala pelemahan.






















































