jpnn.com - Ada sesuatu yang sangat menggoncang jiwa ketika alam memutuskan untuk memutus kepastian mendasar dalam hidup manusia.
Dalam keseharian, kita tumbuh dan bergerak dengan satu asumsi implisit yang tak pernah kita pertanyakan: bahwa bumi di bawah telapak kaki kita adalah titik acuan yang mutlak, sebuah tempat berpijak konstan, stabil, dan tak tergoyahkan.
Kita membangun rumah, merancang masa depan, dan menyusun harapan di atas fondasi tanah yang kita anggap abadi.
Akan tetapi, ketika gempa bumi datang, seluruh ilusi stabilitas itu runtuh hanya dalam hitungan detik.
Gempa bukan sekadar fenomena geologis tentang pergeseran lempeng tektonik; ia merupakan anomali eksistensial yang memaksa manusia berhadapan langsung dengan betapa rapuhnya keberadaan mereka di muka bumi.
?Memori saya tentang gempa Nabire pada tahun 2004 adalah luka sejarah yang menyisakan jejak mendalam.
Ketika ingatan itu dipanggil kembali, yang membayang bukan hanya kerusakan fisik bangunan, melainkan atmosfer mencekam yang membungkus hari-hari setelah guncangan utama.
Malam-malam yang dihabiskan di luar rumah, beralaskan seadanya dan beratap langit terbuka, bukanlah bentuk kemah musim panas yang menyenangkan, melainkan sebuah bentuk pelarian dari ancaman yang tak kasatmata.






















































