jpnn.com, JAKARTA - Anggota Tim Pengawas DPR RI untuk Ibadah Haji 2026 Nurdin Halid mendorong optimalisasi pemanfaatan produk pangan Indonesia untuk konsumsi jemaah haji dan umrah Indonesia di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi.
Sebab, nilai ekonomi untuk konsumsi haji dan umrah mencapai Rp 60 setahun. Sebuah potensi pasar yang besar bagi produk petani, nelayan, UMKM, dan koperasi di Tanah Air.
"Dengan jumlah jemaah haji 221 ribu orang tahun 2026 ini, nilai ekonomi kebutuhan konsumsi saja mencapai Rp 18,2 triliun. Jika digabung dengan umrah yang berjumlah sekitar 1,7 jemaah, nilainya mencapai Rp 60 triliun lebih per tahun. Potensi besar ini harus bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi rakyat dan ekonomi negara kita,” demikian Nurdin Halid dalam keterangan tertulisnya dari Mekkah, Senin (25/5/2026).
Menurut Nurdin, perpuratan uang untuk konsumsi haji dan umrah yang mencapai Rp 60 triliun setahun seharusnya memberi dampak langsung bagi perekonomian nasional. Khusus untuk kebutuhan konsumsi 221 ribu jemaah haji Indonesia tahun 2026, perputaran uang senilai Rp 18,2 triliun.
Nilai itu dihitung dari 2,78 juta boks makanan (katering) untuk 111 kali makan per orang selama 40 hari yang dikelola oleh 75 dapur yang tersebar di Makkah dan Madinah.
Biaya katering jemaah haji Indonesia tahun 2026 ditetapkan sebesar 40 Riyal Arab Saudi per hari atau sekitar Rp180.000 (kurs sekitar Rp 4.500 per riyal).
Nurdin menyoroti potensi ekonomi yang besar itu belum dimanfaatkan secara optimal. Faktanya, selama ini pasokan bahan pangan untuk katering jemaah haji Indonesia masih banyak bergantung pada produk dari Thailand, Vietnam, Brasil, serta negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Dapur penyedia fresh food di Arab Saudi umumnya mendapatkan komoditas pokok seperti beras, daging ayam dan ikan melalui importir yang bekerja sama dengan berbagai negara penyuplai.





















































