jpnn.com, JAKARTA - Perubahan cuaca yang semakin ekstrem, meningkatnya keluhan flu, batuk, pilek, serta dampak long covid membuat banyak orang merasa serangan penyakit pernapasan kini lebih berat dibandingkan sebelum pandemi.
"Kondisi inilah yang mendorong pengembangan obat batuk berbasis nanogold sebagai inovasi kesehatan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat," kata Ketua peneliti sekaligus Guru Besar Program Studi S1 Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prof. Dr. Titik Taufikurohmah, S.Si., M.Si., Jumat (29/5).
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam kegiatan “Presentasi dan Uji Klinik Obat Batuk Berbasis Nanogold Untuk Kebutuhan Riil Masyarakat Terkini Pascapandemi” di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School, Parung, Bogor, Jawa Barat.
Prof. Dr. Titik Taufikurohmah dalam kegiatan itu ditemani anggota peneliti Dr. Rusmini, S.Pd., M.Si. yang juga akademisi dan Dosen Pendidikan Kimia di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), serta akademisi lainnya.
Prof. Titik menjelaskan pengembangan obat batuk berbasis nanogold berangkat dari fenomena yang banyak dirasakan masyarakat.
Obat batuk yang sebelumnya dianggap manjur, kini pada sebagian orang dirasakan tidak lagi memberikan efek secepat yang diharapkan.
Menurutnya, salah satu penyebab, pascapandemi terjadi perubahan besar dalam pola gangguan kesehatan masyarakat.
Virus disebut terus mengalami perubahan, sedangkan daya tahan tubuh sebagian masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat berbagai faktor, termasuk paparan penyakit sebelumnya dan perubahan lingkungan.






















































