jpnn.com, JAKARTA - Pergeseran perilaku pencarian masyarakat Indonesia dari mesin pencari konvensional ke platform kecerdasan buatan seperti ChatGPT dinilai akan menjadi ujian baru bagi brand nasional sepanjang 2026. Brand yang gagal menjadi sumber yang dikutip AI dinilai berisiko kehilangan visibilitas sama sekali.
Hal itu disampaikan AI Search Strategist sekaligus Co-Founder Medialab Strategi Nusantara, Chandra Purnama, di Jakarta, Kamis (5/6). Menurutnya, lanskap pencarian digital tengah memasuki titik balik yang fundamental.
“Selama dua dekade, permainannya adalah berebut halaman pertama Google dan sepuluh tautan biru. Tahun 2026 mengubah aturan itu. Ketika orang bertanya ke ChatGPT atau Google AI Overview, mereka tidak lagi diberi daftar pilihan namun mereka diberi satu jawaban,” ujar Chandra.
Pergeseran ini, kata dia, mengubah pertanyaan inti yang harus dijawab setiap brand. “Dulu pertanyaannya, apakah brand saya muncul di hasil pencarian? Sekarang, apakah brand saya menjadi sumber yang dipercaya dan dikutip AI? Saya menyebutnya pergeseran dari ranking ke citation,” tuturnya.
Indonesia disebut sebagai salah satu pasar AI paling agresif di dunia. OpenAI mencatat Indonesia kini termasuk lima besar pasar ChatGPT berdasarkan jumlah pengguna aktif mingguan. Data We Are Social juga menunjukkan lebih dari sepertiga penduduk Indonesia mengakses ChatGPT setiap bulan, dengan ChatGPT menyumbang sekitar 80,6 persen rujukan trafik AI di Tanah Air, jauh meninggalkan pesaingnya.
Namun, menurut Chandra, kesiapan brand lokal tertinggal jauh dari laju adopsi tersebut. Salah satu kekeliruan yang masih banyak terjadi, lanjutnya, adalah keyakinan bahwa menyebar rilis pers ke sebanyak mungkin portal akan meningkatkan visibilitas di mata AI. Ia merujuk studi BuzzStream atas lebih dari empat juta kutipan AI yang menemukan bahwa rilis pers yang disindikasikan lewat jaringan agregator hanya menyumbang 0,04 persen dari seluruh kutipan, sementara konten editorial orisinal menguasai 81 persen kutipan berita.
“AI tidak mengutip materi promosi yang diduplikasi di mana-mana. Ia mengutip liputan editorial yang otoritatif, orisinal, dan terstruktur,” kata Chandra. “Brand yang masih mengukur keberhasilan PR dari berapa banyak portal yang memuat akan tertinggal,” tambahnya.
Di sisi lain, Chandra melihat peluang besar yang justru sering diabaikan, yakni bahasa dan konteks lokal. Ia menilai sumber yang dipercaya AI saat ini masih didominasi konten berbahasa Inggris, sehingga ruang untuk konten Bahasa Indonesia yang berkualitas masih sangat terbuka.


















































