jateng.jpnn.com, KUDUS - Lampu panggung belum sepenuhnya terang ketika suara gemericik air dan gelembung perlahan memenuhi panggung Djarum Arena Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (19/12).
Di atas panggung, kain-kain tipis berwarna cerah menggantung, bergerak pelan seolah bernapas bersama imaji laut yang hendak dihidupkan.
Dari ruang itulah Raung Silago -lakon yang dipentaskan Teater Lentera Jepara- dimulai.
Adegan dibuka dengan suasana riang menyeruak. Para pemain perempuan muncul dengan gerak tari lincah, kostum warna-warni, dan riasan wajah penuh corak. Mereka menjelma ikan-ikan kecil yang berenang bebas di antara terumbu karang, ditemani seekor kura-kura tua bijak bernama Master Celon. Dunia bawah laut terasa hidup dengan indah, ceria, dan penuh harapan.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Riuh rendah panggung mendadak pecah saat kepiting kecil bernama Cupitong berlari ke sana kemari, panik mencari sang kakek. Dengan suara polos khas anak-anak, dia memanggil, “Kek, kakek, kok aku sendirian?”
Cupitong diperankan Yusuf Ammar Fadhilah, bocah kelas satu sekolah dasar. Justru dari kepolosan itulah emosi penonton perlahan ditarik masuk, tanpa disadari.
Panggung yang semula tenang mendadak riuh. Kampung bawah laut yang indah luluh lantak akibat aktivitas penambangan pasir. Di tengah kegelisahan Silago, ikan kecil yang menjadi poros cerita, kampung halamannya perlahan lenyap.



















































