Pemikiran Nasionalisme Soekarno di Era Media Sosial

7 hours ago 15

Pemikiran Nasionalisme Soekarno di Era Media Sosial

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bung Karno (UBK) Nadya Amara. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Soekarno merupakan salah satu pendiri bangsa Indonesia yang memiliki pemikiran besar tentang nasionalisme.

Bagi Soekarno, nasionalisme tidak hanya diartikan sebagai rasa cinta terhadap tanah air, tetapi juga sebagai kesadaran bersama untuk bersatu, saling menghargai, dan memperjuangkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Pemikiran ini masih relevan untuk dikaji, terutama jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini yang berada di tengah perkembangan pesat media sosial.

Nasionalisme yang dikemukakan oleh Soekarno bersifat inklusif dan menolak perpecahan. Ia menentang nasionalisme sempit yang dapat memicu konflik antarkelompok.

Menurut Soekarno, keberagaman suku, agama, dan budaya justru merupakan kekuatan bangsa Indonesia yang harus dijaga.

Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Nasionalisme seharusnya berfungsi sebagai alat pemersatu, bukan sebagai pembeda yang menimbulkan jarak di antara masyarakat.

Namun, di era media sosial, pemaknaan nasionalisme sering mengalami pergeseran. Media sosial memudahkan masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan mendapatkan informasi dengan cepat.
Di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang subur bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan perdebatan yang bersifat memecah belah.

Soekarno merupakan salah satu pendiri bangsa Indonesia yang memiliki pemikiran besar tentang nasionalisme dan saat ini perkembangan media sosial sangat pesat.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |