Berbulan-bulan setelah banjir menewaskan lebih dari ribuan jiwa di seluruh Sumatra, mereka masih berupaya keluar dari reruntuhan.
Meskipun warga yang bertahan bersemangat untuk membangun kembali, banyak di antara mereka yang hidup dalam ketakutan bencana berikutnya menanti di depan mata.
Salmawati masih ingat suara air itu.
Ia sedang tidur di rumahnya di Lokh Pungki, Sawang, Aceh, ketika ia terbangun menjelang fajar.
Di luar, sungai sudah penuh. Airnya hitam dan naiknya cepat.
Ia menarik kedua putranya dan berlari ke tempat yang lebih tinggi.
Dari lereng bukit, Salmawati menyaksikan rumahnya, yang telah ditempatinya selama 30 tahun, lenyap.
"Anak-anak bilang, 'Bu, rumah kita hilang.' Hatiku sangat hancur."



















































