jpnn.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali buka suara perihal merosotnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat (USD). Pada perdagangan hari ini atau Jumat (29/5/2026), kurs USD hampir menyentuh angka Rp 17.900.
Pada penutupan perdagangan hari ini, USD berada di level Rp 17.864..
Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah.
Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valuta asing secara musiman di tengah arus masuk USD yang terbatas.
"Antara lain (kebutuhan akan USD) untuk pembayaran ULN (utang luar negeri) dan repatriasi dividen," ujar Ramdan dalam keterangan tertulisnya.
Ramdan menekankan Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
Selain itu, intervensi BI dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
"Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya," tuturnya.






















































