jogja.jpnn.com, GUNUNGKIDUL - Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mulai melakukan pemetaan potensi kekeringan sebagai langkah strategis mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan bahwa tren kekeringan di wilayahnya memiliki pola khas yang biasanya dimulai dari kawasan selatan.
Hal ini disebabkan oleh kondisi geologis wilayah tersebut yang didominasi oleh tanah kapur.
"Karakteristik tanah di sana dominan tanah kapur sehingga sangat mudah kering. Artinya, tanah tersebut tidak mampu menyimpan air di permukaan," ujar Purwono, Kamis (26/6).
Berdasarkan pengamatan tahun-tahun sebelumnya, wilayah yang menjadi titik awal kekeringan meliputi:
- Kapanewon Girisubo
- Kapanewon Tepus
- Kapanewon Tanjungsari
- Kapanewon Panggang
- Kapanewon Purwosari
- Kapanewon Saptosari
Menurut Purwono, sulitnya akses air di kawasan ini disebabkan posisi air tanah yang berada di kedalaman 80 hingga 100 meter di bawah permukaan tanah.
Oleh karena itu, bantuan distribusi air bersih dari BPBD akan diprioritaskan ke wilayah selatan terlebih dahulu, sebelum meluas ke arah utara.
Meskipun kekeringan berpotensi mengganggu produktivitas pertanian, masyarakat setempat dinilai sudah sangat tangguh dan berpengalaman dalam beradaptasi dengan kondisi alam.


















































