jpnn.com - Mencermati dari jarak yang jauh melalui dunia maya perhelatan akbar Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ada rasa bangga, ada rasa sedih, sedikit rasa kecewa dan ada rasa tetap mencinta untuk masa depan Perhimpunan yang lebih baik.
Rasa bangga, ketika Panitia Penyelenggara terutama tuan rumah, para pejabat aparatur negara, hierarki Gereja menyambut baik, penuh keakraban sesama saudara seiman, sesama penganut Katolik yang sampai saat ini memegang teguh semboyan missioner Pro Ecclesia Et Patria - untuk Gereja dan Negara.
Pertunjukan yang sangat indah ketika ada perpaduan seni dan budaya di tengah efisiensi anggaran yang ditekankan oleh penguasa dari singgasananya di Jakarta.
Homili dari Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng NTT, saat Misa Pembukaan sebelum Kongres dan MPA PMKRI yang menggugah dan semestinya membangunkan diri dari rasa nyaman bahkan terlelap saat melihat realitas sosial Indonesia yang tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Rasa bangga lainnya adalah antusiasme para pemangku kepentingan dan terutama kehadiran 75 Cabang PMKRI Se Indonesia untuk beradu ide/gagasan bersama entitas sebayanya kaum muda yang nyala dan berapi-api.
Mereka dengan segala keterbatasannya hendak menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik.
Bangga pula karena lahirnya/hadirnya Cabang baru PMKRI Cabang Depok, Cabang Soe, NTT dan Cabang Pangkal Pinang.
Bukti nyata bahwa PMKRI tetap eksis.






















































