jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyebut ada risiko tinggi diterima Indonesia ketika berencana mengirim prajurit TNI, dalam pasukan International Stabilization Force (ISF) di bawah kendali bBoard of Peace (BoP).
"Saya melihat ini sebagai partisipasi Indonesia dalam eksperimen pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sangat berisiko tinggi dan menelan biaya tidak sedikit,” ujar Kang TB sapaan akrabnya melalui layanan pesan, Minggu (15/2).
Kang TB mengatakan beberapa aspek penting harus menjadi perhatian serius pemerintah ketika mengirim pasukan ISF di bawah kendali BoP.
Pertama, kata dia, mandat ISF belum jelas. Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 yang disetujui pada November 2025 memang menyebutkan peran ISF membantu BoP mendukung gencatan senjata dan demiliterisasi di Gaza.
Namun, kata Kang TB, BoP dalam perkembangan justru menjadi organisasi yang secara struktural didominasi oleh satu negara, yakni AS.
Toh, kata eks Sesmilpres itu, BoP dalam piagam pendirian tidak secara spesifik menyebutkan soal perdamaian Gaza.
Kang TB menuturkan kondisi itu dinilai berbahaya, karena ISF dapat menjadi seperti 'cek kosong' bagi pihak yang mendominasi BoP.
“Hal ini menjadi pertanyaan, apakah ISF benar-benar mewakili kepentingan negara pengirim atau hanya menjadi instrumen pihak tertentu di Gaza."



















































