jpnn.com, JAKARTA - Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-70 dengan merefleksikan perjuangan panjang organisasi serta menyoroti tiga isu strategis, yaitu kemerdekaan Palestina, ancaman deindustrialisasi, dan pentingnya perlindungan buruh melalui undang-undang.
Presiden DPP Konfederasi Sarbumusi, Irham Ali Saifuddin, menegaskan peringatan ini bukan sekadar soal angka. "Di usia yang ketujuh puluh ini, kami tidak hanya melihat angka, tetapi melihat sebuah perjalanan panjang membela hak-hak dasar kaum buruh, dari tingkat lokal hingga ke forum internasional," ujar Irham pada Minggu (28/9) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Ia mengungkapkan, Sarbumusi kini telah berkembang menjadi 14 federasi dan menjadi satu-satunya konfederasi serikat buruh di Indonesia dengan keanggotaan paling beragam, termasuk sektor informal.
Pada kesempatan itu, Irham menegaskan komitmen internasional organisasinya. "International Labour Confederation bersama Sarbumusi secara konsisten dari awal berdirinya, kita senantiasa menyuarakan kemerdekaan Palestina. Kami memperjuangkan ini di forum-forum internasional, termasuk sidang tertinggi di ILO," katanya.
Di tingkat nasional, Sarbumusi menyampaikan pokok pikiran terkait tiga Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada pimpinan DPR RI. Dokumen tersebut mencakup RUU Ketenagakerjaan, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, dan RUU Pekerja Migran Indonesia. “Kami akan melakukan upaya apapun agar DPR dan Pemerintah untuk segera meng-goalkan ketiga RUU ini. Terutama RUU Pekerja Rumah Tangga,” tegas Irham.
Organisasi buruh ini juga menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap gelombang deindustrialisasi yang memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. “Data kami mencatat lebih dari seratus ribu kasus PHK dalam setahun terakhir. Ini adalah alarm bagi kita semua untuk bergerak lebih cepat dan lebih solid,” ungkapnya.
Irham mendesak pemerintah merumuskan strategi yang implementatif. “Kami meminta pemerintah untuk mendatangkan investasi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang layak,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Harlah 70 Tahun Sarbumusi, Agung Prastowo, menekankan pentingnya penguatan budaya kerja positif. “Harapan kami, di usia yang ketujuh puluh ini, Sarbumusi semakin kokoh sebagai rumah besar yang hangat dan inklusif bagi seluruh buruh Indonesia,” ungkap Prastowo.


















































