jateng.jpnn.com, SEMARANG - Virus Nipah sedang ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia setelah mencuat kasus terkonfirmasi di India.
Pemerintah Kota Semarang pun meningkatkan kewaspadaan virus yang ditularkan kelelawar buah atau Pteropus spp. ini.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M. Abdul Hakam menyampaikan hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia. Kendati begitu, langkah antisipasi terus diperkuat mengingat tingkat kematian akibat virus tersebut tergolong tinggi.
“Alhamdulillah, dari Kementerian Kesehatan yang disampaikan, sampai saat ini belum ada kasus. Di Kota Semarang juga belum ditemukan,” ujar Abdul Hakam di Kantor Dinkes Kota Semarang, Selasa (3/1).
Hakam menjelaskan Kementerian Kesehatan telah menggelar rapat koordinasi secara daring dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi masuknya virus nipah ke Indonesia, termasuk ke daerah kabupaten/kota.
Menurutnya, virus nipah merupakan dari famili Paramyxoviridae dengan reservoir alami berupa kelelawar buah. Virus ini dapat hidup pada kelelawar tanpa menimbulkan gejala.
Namun, penularan dapat terjadi ketika ada interaksi antara kelelawar dengan hewan lain, seperti babi atau ternak, sebelum akhirnya menular ke manusia.
Hakam menjelaskan bahwa sejak pertama kali teridentifikasi di India dan Malaysia pada 1998, kasus virus nipah juga dilaporkan meningkat signifikan.

















































