jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Bandung Raya tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga pengelolaan residu atau sisa makanan agar tidak memicu persoalan lingkungan.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sonny Sanjaya mengatakan, pihaknya baru saja menggelar konsolidasi pelaksanaan program MBG untuk wilayah Kota Bandung, Cimahi, dan Sumedang.
"Tujuan konsolidasi ini untuk menyatukan kembali pemahaman tentang tujuan pokok MBG, yakni meningkatkan asupan gizi kepada kelompok rentan, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta peserta didik," kata Sonny usai menghadiri kegiatan konsolidasi SPPG di Kota Bandung, Sabtu (7/3/2026).
Selain membahas kualitas layanan kepada penerima manfaat, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya pengelolaan residu atau sisa makanan dari operasional dapur MBG.
Menurut Sonny, jumlah Satua Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bandung saat ini sudah mencapai sekitar 295 unit. Jika tidak dikelola dengan baik, keberadaan dapur-dapur tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.
"Jangan sampai keberadaan SPGG ini menimbulkan isu lingkungan karena food waste atau sisa-sisa makanan. Jangan sampai terjadi penumpukan sampah atau menimbulkan bau," ujarnya.
Dia menegaskan, pengelolaan residu perlu melibatkan peran aktif pemerintah daerah agar dampak lingkungan dari program MBG bisa diminimalkan.
Sonny bahkan menantang kepala daerah untuk berani mengelola sampah secara lebih inovatif.
















































