jpnn.com, BANDUNG - Sebulan pasca-longsor maut Gunung Burangrang, warga Desa Pasirlangu, Cisarua, dibuat geram oleh aksi sejumlah warga luar daerah yang menjadikan lokasi bencana sebagai tempat ngabuburit dan konten media sosial.
Warga Pasirlangu kini memasang spanduk peringatan keras agar pendatang menghormati duka keluarga yang masih kehilangan puluhan sanak saudaranya.
Pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, longsoran tanah yang besar menerjang Desa Pasirlangu. Ratusan orang meninggal dunia, dan masih ada 24 orang yang belum ditemukan hingga operasi pencarian dihentikan BPBD Jabar.
Longsor tersebut berdampak pada area seluas sekitar 15,27 hingga 30 hektare. Material longsoran mengalir sejauh 2 hingga 3,5 kilometer, menimbun kebun sayur, permukiman, dan menutup akses jalan dengan panjang aliran mencapai 1,7 - 2 kilometer.
Kini setelah sebulan berlalu, warga-warga yang rumahnya tertimbun mulai pindah ke rumah kontrakan dengan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Mereka juga sambil menunggu hunian baru dibangun dan relokasi.
Namun mirisnya, lokasi bencana longsor itu justru dimanfaatkan sejumlah orang yang datang untuk meraup untung.
Salah satu warga Pasirlangu, Iman Rahmat, menuturkan, banyak warga dari luar Cisarua KBB yang datang ke desanya untuk membuat konten di media sosial. Beberapa lainnya ada juga yang menjadikan tempat itu jadi lokasi ngabuburit menunggu jam berbuka puasa.
"Sudah sebulan ini banyak dari luar warga (Pasirlangu) ke sini, mereka ngabuburit. Bahkan ada yang memanfaatkan buat konten," kata Iman kepada JPNN ditemui di lokasi bencana, Rabu (25/2).




















































