jatim.jpnn.com, MALANG - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo tidak hanya berdampak terhadap lingkungan. Penutupan kawasan wisata akibat kebakaran juga mulai memukul mata pencaharian warga lokal yang selama ini bergantung pada aktivitas pariwisata.
Sebagian besar warga di sekitar kawasan Gunung Bromo menggantungkan perekonomian dari sektor pariwisata. Mulai dari penginapan, penyewaan kendaraan, penjualan suvenir, makanan, hingga jasa pemandu wisata.
Namun, kondisi tersebut berubah setelah Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo pada Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB.
Penutupan dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan karena kebakaran di kawasan Bromo semakin meluas.
Dampaknya, aktivitas ekonomi warga sekitar ikut menurun. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun berupaya membantu warga yang terdampak dengan meminta petugas yang berada di lokasi membeli kebutuhan makanan dari warung-warung warga.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan instruksi tersebut diberikan agar aktivitas ekonomi warga tetap berjalan selama kawasan wisata ditutup.
“Ya, warung terasa tapi itu sebabnya Pak Sekda menginstruksikan kepada BPBD dan juga kepada semua petugas untuk makanan sehari-hari utamakan beli dari warung di situ,” kata Emil seusai rapat paripurna di DPRD Jatim, Jumat (14/8).
Menurut Emil, langkah tersebut cukup membantu karena jumlah personel yang terlibat dalam penanganan kebakaran Bromo cukup banyak.


















































