Zhou BK

4 hours ago 9

Oleh Dahlan Iskan

Zhou BK

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

jpnn.com - "Hampir semua orang Indonesia tahu nama Zhou En Lai," kata saya melebih-lebihkan nama besar mantan perdana menteri Tiongkok itu.

Orang di kota ini senang mendengarnya: Kota Huai An. Itu satu kabupaten kecil di bagian utara provinsi Jiangshu yang besar. Jaraknya tiga jam naik kereta cepat dari Gedung Celana Panjang di Suzhou (lihat disway kemarin).

Di situlah Zhou En Lai lahir. Kelak di tahun 1955 ia ke Bandung. Ia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KAA). Indonesia memang pendiri Gerakan Negara-Negara Nonblok: tidak memihak Amerika dan sekutu Baratnya maupun Uni Soviet dan sekutu sosialisnya.

Waktu ke Bandung itu Zhou En Lai ditemani seorang tokoh yang punya anak yang masih kecil. Anak kecil itu kelak di tahun 2025 menjabat Presiden Tiongkok untuk periode ketiga kalinya.

Zhou En Lai sangat terlambat kawin. Tidak punya anak kandung. Karir politiknya melejit. Kerjanya keras. Kelak di awal perkawinannya ia mengangkat dua anak: perempuan dan laki-laki.

Mereka tidak sampai berumah tangga. Kelak, setelah agak dewasa yang perempuan tewas oleh kekerasan politik --setelah jadi korban pemerkosaan lawan politik.

Sedangkanyang laki-laki tidak bisa selamat dari penyiksaan di saat meletus revolusi kebudayaan antara tahun 1966-1974.

Zhou En Lai sendiri harusnya juga terkena revolusi. Hampir terkena. Sudah mulai disasar olehbuzzeraliran keras di Partai Komunis Tiongkok. Ia hampir jadi korban rebutan posisi di lingkungan kekuasaan mutlak Mao Zedong.

Perjalanan Zhou dipaparkan di meseum itu. Termasuk saat hadir di KAA Bandung. Saat saya tiba di bagian KAA Bandung saya melihat beberapa foto Zhou di KAA itu.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |