jpnn.com - Panggung geopolitik global sedang memanas. Konflik yang membentang dari Timur Tengah hingga kawasan Indo-Pasifik kini menempatkan Indonesia pada posisi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Di saat publik masih sibuk memperdebatkan dampak kenaikan harga minyak dan gejolak pasar keuangan, sebuah isu jauh lebih sensitif mengemuka: apakah kekayaan alam Papua, melalui operasi PT Freeport Indonesia, secara tidak langsung telah menyeret nama bangsa ini ke dalam pusaran perang?
Pertanyaan itu mungkin terdengar seperti skenario film konspirasi. Namun, di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat - Israel sejak akhir Februari 2026, spekulasi semacam ini mulai mendapatkan tempat di ruang-ruang diskusi publik.
Dan, ketika nama Freeport disebut dalam satu napas dengan perang, rakyat Indonesia berharap, Indonesia tidak lagi bersikap seolah semua baik-baik saja.
Semuanya bermula dari eskalasi terbaru di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran dengan dalih program nuklir yang dianggap mengancam.
Serangan balasan Iran yang menargetkan kapal-kapal di dekat Selat Hormuz segera memicu reaksi berantai.
Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari tujuh persen, menembus angka 78 dolar AS per barel.
Angka itu mungkin hanya statistik di atas kertas bagi sebagian orang, tapi dampaknya terasa hingga ke dapur rumah tangga: subsidi energi membengkak, rupiah tertekan, dan inflasi mengintai.













.jpeg)






































