jatim.jpnn.com, TULUNGAGUNG - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Tulungagung mengidentifikasi adanya kasus baru penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi pada awal 2026.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakeswan Tulungagung Tutus Sumaryani mengatakan, kondisi cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan tinggi serta kelembapan meningkat menjadi salah satu faktor yang membuat ternak rentan terserang penyakit.
"Sejak pertengahan Januari 2026 kami menerima laporan adanya 59 kasus PMK pada sapi potong. Hingga saat ini belum ada laporan ternak mati akibat PMK," kata Tutus, Selasa (3/2).
Dia menjelaskan berdasarkan hasil pemetaan, mayoritas kasus ditemukan di Kecamatan Ngantru dan Rejotangan. Wilayah dengan temuan terbanyak umumnya berada di kawasan perbatasan antarwilayah.
Menurut Tutus, kemunculan kembali PMK diduga dipicu masuknya ternak baru dari luar daerah yang membawa virus PMK dan menularkannya ke ternak lokal.
Sebagian ternak yang terpapar diduga belum mendapatkan vaksinasi PMK.
Walakin, dia menyebut sejumlah ternak yang telah divaksin tetap bisa terinfeksi, namun proses pemulihannya relatif lebih cepat dibandingkan ternak yang belum divaksin.
Sebagai langkah penanganan, Disnakeswan Tulungagung kembali menggencarkan vaksinasi PMK serta melakukan desinfeksi di Pasar Hewan Terpadu.


















































