jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan DPR (2026) dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah Tahun 2026 mencatat 75 persen sampah nasional atau setara 105.483 ton per hari masih belum tertangani pada 2025.
Founder & Chief Executive Officer Waste4Change Muhammad Bijaksana Junerosano menyampaikan tingginya angka tersebut menegaskan urgensi pembenahan sistem pengelolaan sampah di Indonesia.
Dalam rangka memperingati Hari Bumi, Waste4Change bersama Sustainabilitas menggelar forum diskusi terbatas bertajuk “Refleksi Hari Bumi: Meninjau Ulang Sistem Pengelolaan Sampah Indonesia”, di Transport Hub, Jakarta, Senin (20/4).
Forum tersebut bertujuan untuk memperkaya perspektif serta mendorong lahirnya rekomendasi solusi yang holistik dan strategis, khususnya dalam menjawab persoalan sistem, tata kelola, dan implementasi kebijakan di tingkat daerah.
“Sekitar 60–70% sampah di Indonesia masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), baik yang dikelola secara sanitary landfill maupun terbuka, tanpa pengolahan lanjutan yang optimal,” ujar Sano.
Menurut Sano, pengolahan yang kurang optimal disebabkan masih banyak miskonsepsi yang masih umum terjadi di masyarakat seperti anggapan bahwa yang penting sampah diangkut, daur ulang, pengelolaan sampah sepenuhnya tanggung jawab pemerintah padahal ada banyak pihak yang terlibat, serta pemilahan cukup dilakukan di TPA.
“Faktanya pemilahan di TPA masih terbatas dan belum optimal karena sampah banyak yang tercampur,” kata dia.
Oleh karena itu, penyelesaian masalah sampah harus dilihat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai sesuatu yang perlu dibuang, tetapi juga sebagai potensi sumber daya yang memiliki manfaat.




















































