jpnn.com - Setengah jam lagi jadwalnya tiba: berangkat dari Tarim ke Mukalla, kota pantai, ibu kota provinsi Hadramaut, Yaman. Saya pun siap terguncang-guncang di jalan selama lima jam.
Tapi waktu seperti berhenti di Tarim. Satu-satunya yang tepat waktu hanyalah azan. Saya pun menunggu dan menunggu. Kendaraan yang ditunggu belum datang.

Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam. Saya menunggu di pinggir jalan. Di simpang empat berdebu di pojok pondok Darul Mustofa.
Untung waktu kecil saya biasa di situasi seperti itu. Waktu itu juga tidak pernah ada kejelasan jam keberangkatan kendaraan umum. Di mana-mana. Juga di stasiun Paron di Ngawi untuk jurusan Jogorogo. Kendaraannya, waktu itu, disebut oplet. Berangkatnya bukan jam berapa, tapi menunggu apakah sudah ada sejumlah penumpang yang akan dibawa.
Setelah menunggu lebih 1,5 jam, ”oplet” saya di Tarim tiba. Bagus. Toyota Noah. Mirip Innova. Di sebelah sopir sudah ada penumpang. Di kursi belakang sudah tiga orang. Masih ada tiga tempat duduk di tengah. Tapi calon penumpangnya hanya dua: saya dan Amang. Berarti masih harus menunggu satu penumpang lagi.
Ternyata tidak. Meski satu kursi di tengah masih kosong Noah berangkat dari Tarim. Debu beterbangan ke mana-mana kena putaran roda belakang Noah. Lumayan. Kursi tengah yang kosong ini membuat ruang agak longgar.
Begitu meninggalkan kota Tarim yang terlihat hanya gunung dan gunung. Bukan gunung batu. Itu gunung tanah. Permukaan gunung itu rata. Kalau di Indonesia akan disebut gunung meja. Tapi tidak ada gunung meja di Indonesia yang seluas itu.

.jpeg)


















































