jpnn.com, JAKARTA - Pembangunan kawasan hunian kini tak lagi dipandang sekadar penyedia tempat tinggal. Dalam skala tertentu, sektor properti mampu membentuk pusat pertumbuhan ekonomi baru yang terintegrasi.
Pengamat ekonomi Agus Trihatmoko menilai efek berganda sektor perumahan menjangkau berbagai sektor turunan. Aktivitas pembangunan menciptakan permintaan terhadap bahan bangunan, jasa konstruksi, hingga layanan logistik.
Agus pun menegaskan pentingnya pendekatan inklusif dalam setiap proyek perumahan.
“Dampak terhadap pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bisa sangat signifikan dari program sektor properti, sepanjang manajemen pembangunannya inklusif. Artinya, tidak sentralistik dan tidak monopolistik, serta melibatkan banyak pelaku usaha,” ujarnya.
Lebih lanjut Agus mengatakan pelibatan pelaku usaha lokal menjadi faktor krusial agar nilai tambah ekonomi tidak berhenti di level pengembang. Penyedia material daerah dan kontraktor lokal pun perlu menjadi bagian dari rantai produksi.
Agus juga memaparkan pendekatan pembangunan tidak bisa disamaratakan. Wilayah desa dan pesisir, tuturnya, membutuhkan desain hunian yang dekat dengan pusat aktivitas warga.
“Di desa atau wilayah pesisir, perlu mempertimbangkan lokasi lahan dan kedekatannya dengan pusat aktivitas ekonomi warga. Bisa jadi modelnya bukan kompleks besar, melainkan beberapa unit rumah di titik strategis dekat wilayah kerja penghuninya,” jelasnya.
Sementara itu, di kawasan metropolitan, hunian vertikal menjadi solusi atas keterbatasan lahan dan dinamika ekonomi perkotaan.




















































