jateng.jpnn.com, SEMARANG - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko sempat terpancing emosi saat menerima kritik keras dari seorang mahasiswa dalam forum diskusi bertajuk Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini di Embun Senja Coffee, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/6).
Diskusi yang diselenggarakan Forum KAFKA tersebut menghadirkan Budiman Sudjatmiko dan dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Hasyim Asy'ari sebagai narasumber. Acara itu dihadiri mahasiswa serta masyarakat umum dan awalnya berlangsung kondusif.
Ketegangan mulai muncul ketika sesi tanya jawab dibuka. Seorang mahasiswa yang mengaku pernah ditangkap dalam aksi Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Semarang berdiri dari kursinya untuk menyampaikan pandangan dan kritik terhadap pemaparan Budiman.
Mahasiswa tersebut mengaku pernah ditahan dan menjalani hukuman selama tiga bulan setelah mengikuti aksi demonstrasi May Day.
"Saya ditangkap saat May Day di Semarang. Saya dipenjara tiga bulan lamanya. Dalam sejarah aktivisme mahasiswa Indonesia, ribuan mahasiswa ditangkap. Saya kira Bapak (Budiman, red) hanya suram mendengar hal-hal tersebut," ujarnya.
Dalam penyampaiannya, mahasiswa itu menilai Budiman telah kehilangan sikap kritis terhadap pemerintah sejak bergabung ke dalam lingkar kekuasaan.
Dia bahkan menuduh mantan aktivis 1998 tersebut terjebak dalam hegemoni kekuasaan dan tidak memahami realitas yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini.
"Saya rasa Bapak (Budiman, red) sangat munafik ketika berbicara bahwa pemerintah tidak sedang meninabobokan rakyat. Justru saya kira itulah cara negara membangun ideologi yang membuat orang-orang seperti Bapak (Budiman, red) duduk di depan hari ini," katanya.



















































