jpnn.com, JAKARTA - Elon Musk kini resmi menjadi orang pertama di dunia yang memiliki kekayaan lebih dari 1 triliun dolar AS, setelah perusahaan roketnya, SpaceX, resmi melantai di pasar saham.
Dilaporkan TechCrunch pada Jumat (12/6) waktu setempat, pendiri dan CEO SpaceX itu memiliki saham perusahaan senilai sekitar 860 miliar dolar AS setelah harga saham ditetapkan sebesar 135 dolar AS per lembar menjelang penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).
Jika digabungkan dengan kepemilikannya di Tesla serta lonjakan harga saham SpaceX pada hari pertama perdagangan, total kekayaan Musk di atas kertas kini melampaui 1 triliun dolar AS. Harga saham SpaceX bahkan terus menguat pada perdagangan awal Jumat, yang semakin menambah nilai kekayaan Musk.
Pencapaian Musk sebagai triliuner pertama di dunia ini terjadi di tengah pengaruhnya yang dinilai semakin besar, namun juga diiringi tingkat ketidaksukaan publik yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Sepanjang 2024, Musk diketahui menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendanai kampanye presiden Donald Trump dengan total dana sekitar 300 juta dolar AS. Setelah itu, ia terlibat dalam pemerintahan Trump dengan memimpin lembaga yang disebut "Department of Government Efficiency" atau Departemen Efisiensi Pemerintahan.
"Lembaga itu, menurut berbagai penilaian, tidak berhasil memangkas pengeluaran pemerintah secara keseluruhan dan sebagian besar hanya membatalkan sejumlah kontrak tanpa peninjauan yang memadai terhadap isi maupun dampaknya," demikian laporan tersebut.
Masih ada potensi kekayaan yang lebih besar bagi Musk ke depan. Tahun lalu, para pemegang saham Tesla menyetujui paket kompensasi untuk Musk yang nilainya dapat mencapai 1 triliun dolar AS, dengan syarat ia berhasil meningkatkan valuasi perusahaan dan memenuhi sejumlah target operasional tertentu.
Selain itu, meskipun 1 miliar saham SpaceX miliknya tidak dapat dijual kecuali perusahaan berhasil membangun koloni manusia di Mars, Musk tetap dapat menggunakan saham tersebut sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman. Dengan demikian, ia berpotensi mengakses miliaran dolar dalam bentuk tunai sebelum target tersebut tercapai tanpa harus membayar pajak atas kekayaan tersebut.






















































