jatim.jpnn.com, SURABAYA - Media sosial tengah diramaikan fenomena Generasi Z yang enggan menduduki posisi manajerial. Tren ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya) Dr Elsye Tandelilin menyebut fenomena tersebut dikenal dalam dunia manajemen sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management.
"Bagi Gen Z, menduduki sebuah jabatan manajerial bukanlah sebuah prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima” ujar Elsye dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2).
Menurutnya, dalam jangka pendek fenomena ini dapat memicu kekosongan kepemimpinan serta meningkatnya angka pengunduran diri di level manajer menengah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan krisis suksesi kepemimpinan di level atas.
“Perusahaan bisa terguncang secara finansial karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk rekrutmen eksternal dan pelatihan,” katanya.
Elsye juga menilai, absennya manajer menengah dapat menurunkan inovasi organisasi karena tidak ada 'jembatan' yang menghubungkan visi strategis dengan eksekusi teknis di lapangan.
Selain itu, ketergantungan pada manajer senior berisiko memicu burnout. Jika berlangsung lama, fondasi manajerial perusahaan bisa menjadi rapuh.
Solusi: Pendekatan Individual Contributor

















































