jateng.jpnn.com, SEMARANG - Jarum jam menunjukan pukul 11.00 WIB. Tampak seorang berpeci sibuk menata kayu bakar di tungku besar. Dandang tembaga jumbo di letakkan di atas perapian tersebut.
Dengan cekatan, pria bernama Ahmad Paserin (55) ini menakar air, lalu merebusnya hingga mendidih. Setelah itu, aneka macam sayuran dan rempah-rempah dimasukkan secara pelan-pelan.
"Ada wortel, daun bawang, bawang merah, bawang putih, daun salam, kayu manis, serai sama jahe," kata pria yang akrab disapa Serin tersebut kepada JPNN.com, Jumat (20/2).
Tak lama, aroma rempah menguar bercampur dengan asap kayu bakar. Tahap berikutnya adalah memasukkan beras dan santan kelapa ke dalam rebusan.
Serin mengaduknya menggunakan sudip kayu besar. Tak lupa, garam dan gula ditambahkan sebagai penyeimbang rasa.
Proses memasak itu merupakan pembuatan bubur India yang menjadi menu khas berbuka puasa selama Ramadan di Masjid Jami Pekojan, Jalan Petolongan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah.
"Setiap Ramadan, bubur India ini hadir sebagai menu takjil di Masjid Pekojan," kata Serin sembari menyeka peluh akibat panas api yang menyengat wajahnya.
Di awal Ramadan 1447 Hijriah ini, sebanyak 21 kilogram beras diolah untuk sekitar 200 jamaah yang berbuka puasa di masjid. Namun, tak sedikit yang membawa pulang bubur tersebut.

















































