jpnn.com, JAKARTA - Program fortifikasi beras dinilai memiliki peluang besar untuk membantu mengatasi kekurangan mikronutrien di masyarakat.
Namun, penerapannya secara luas masih menghadapi tantangan besar, terutama karena jumlah penggilingan beras di Indonesia sangat banyak dan sebagian besar berskala kecil.
M4N Millers Advisory Member, Budianto Wijaya, mengatakan saat ini pelaku industri yang terlibat dalam ekosistem beras fortifikasi masih relatif terbatas. Salah satu indikatornya, produsen kernel atau bahan campuran utama dalam beras fortifikasi disebut baru berjumlah sedikit.
“Masih relatif sedikit. Produsen kernel saja baru dua. Sementara rice miller itu jumlahnya sangat banyak, bisa seratus ribu atau lebih,” ujar Budianto dalam acara Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in Commerce Market di Jakarta, Rabu (24/6).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat penerapan fortifikasi beras tidak bisa langsung dilakukan secara menyeluruh. Berbeda dengan komoditas lain seperti minyak goreng atau tepung terigu yang industrinya lebih terkonsentrasi, rantai produksi beras jauh lebih tersebar.
Oleh karena itu, Budianto menilai pendekatan yang paling realistis saat ini adalah memulai fortifikasi dari penggilingan beras berskala besar atau large scale fortification. Langkah ini dianggap lebih memungkinkan dari sisi pengawasan mutu, konsistensi produksi, serta monitoring di lapangan.
“Beras itu paling banyak produsennya dan banyak yang kecil-kecil. Jadi kita mulai dari yang besar-besar dahulu supaya lebih mudah menjaga mutunya,” katanya.
Dari sisi teknologi, Budianto menegaskan bahwa fortifikasi beras sebenarnya sudah siap diterapkan. Teknologi tersebut bukan hal baru karena telah lama digunakan di berbagai negara. Tantangan utama, kata dia, bukan lagi pada aspek teknis, melainkan pada kebijakan, koordinasi, dan kesiapan ekosistem.




















































