jpnn.com, JAKARTA - Fortifikasi beras dinilai menjadi salah satu intervensi penting untuk mengatasi masalah anemia dan kekurangan gizi mikro di Indonesia.
Pasalnya, beras adalah makanan pokok yang dikonsumsi lebih dari 90 persen penduduk Indonesia, sehingga berpotensi menjangkau masyarakat secara luas tanpa mengubah pola konsumsi harian.
Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), Dra Nina Sardjunani MA, mengatakan fortifikasi pangan merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan dan gizi bangsa.
Fortikasi juga memiliki keunggulan dibanding sejumlah intervensi gizi lainnya karena dapat menjangkau banyak kelompok masyarakat, tidak mengubah kebiasaan pembelian maupun cara mengolah pangan, serta dapat dilakukan dengan biaya relatif efisien.
“Fortifikasi pangan adalah investasi jangka panjang untuk ketahanan pangan dan gizi bangsa,” kata Nina saat menjadi pembicara kunci dalam Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in Commerce Market, Rabu (24/6).
Berdasarkan data yang didapatkan KFI, kerugian ekonomi akibat anemia di Indonesia diperkirakan mencapai Rp62,2 triliun per tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan anemia perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Salah satu strategi yang dinilai efektif adalah fortifikasi pangan berskala besar atau large-scale food fortification.





















































