jpnn.com - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Eropa dalam beberapa pekan terakhir mulai mengubah arah pasar otomotif.
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, konsumen kini berbondong-bondong melirik mobil listrik bekas sebagai alternatif yang lebih hemat biaya.
Kenaikan harga BBM dipicu gangguan distribusi minyak dunia, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan global.
Sejak akhir Februari, harga bensin di kawasan Uni Eropa tercatat naik sekitar 12 persen, menyentuh kisaran 1,84 euro per liter atau sekitar Rp36 ribu.
Perubahan perilaku terlihat jelas di pasar mobil bekas. Sejumlah platform jual beli online mencatat lonjakan minat terhadap kendaraan listrik.
Dalam beberapa kasus, bahkan mobil listrik mulai mengungguli kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel dari sisi pencarian hingga transaksi.
Analis dari marketplace Norwegia Finn.no, Terje Dahlgren, menyebutkan terjadi peningkatan signifikan pada penjualan mobil listrik bekas.
Fenomena serupa juga diungkap perusahaan ritel otomotif asal Prancis, Aramisauto, yang mencatat penjualan mobil listrik hampir dua kali lipat hanya dalam tiga minggu terakhir.




















































