jpnn.com - Mesir beruntung: akhirnya dapat presiden baru yang sangat berprestasi: Abdel Fattah El Sisi.
Awalnya ia dianggap pemberangus kebebasan, pembunuh demokrasi, otoriter, dan kejam.

Lebih 3.000 aktivis tewas di awal kemunculannya sebagai pemimpin. Tahun 2014 ia resmi menjadi presiden –setelah setahun sebelumnya menggulingkan presiden hasil Pemilu demokratis.
Ikhwanul Muslimin, pemenang pemilu demokratis pertama, ia tumpas. Ia basmi. Habis. Sampai akar-akarnya.
Ikhwanul Muslimin memang berhasil memelopori gerakan reformasi di Mesir –yang tahun-tahun itu lagi berkembang di berbagai negara Arab: Arab Springs.
Gerakan itu menjalar ke berbagai negara Arab. Negara-negara Barat ikut mengipasinya. Di musim Arab Springs itu Ikhwanul Muslimin berkibar-kibar di Mesir. Setinggi langit. PKS yang di Indonesia pun seperti ikut dapat berkahnya.
Namun begitu mereka berhasil memegang pemerintahan, ego berkuasanya tidak terbendung. Semua kursi kabinet diambilnya. Semuanya. Tidak ada koalisi. Tidak memberi muka sedikit pun lawan politiknya.

.jpeg)
















































