Imam Jazuli Anggap Kiai Kafabihi Mahrus Pantas Memimpin NU

3 hours ago 20

Imam Jazuli Anggap Kiai Kafabihi Mahrus Pantas Memimpin NU

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

KH Imam Jazuli. Foto: Timnas AMIN

jpnn.com - JAKARAT - Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH. Imam Jazuli menilai Nahdlatul Ulama butuh sosok seperti KH. Kafabihi Mahrus sebagai pemimpin.

"Di tengah disrupsi zaman yang kian menderu, menjelang Muktamar ke-35 NU, sosok KH. Kafabihi Mahrus muncul bukan hanya sebagai kandidat, melainkan sebuah kebutuhan sejarah bagi struktur PBNU," kata Kiai Imam.

Dia menyebutkan beberapa alasan mengapa pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo itu menjadi figur yang kompeten untuk mengemban amanah sebagai Rais Aam di PBNU.

  • Kedalaman Epistemologi: Aliman dan Faqihan
    Menurutnya, keabsahan kepemimpinan dalam tradisi pesantren mutlak bersandar pada penguasaan literatur klasik (turats). Kiai Kafabihi adalah representasi murni dari transmisi keilmuan yang tidak terputus (isnad).
    Sebagai figur yang tumbuh dalam ekosistem intelektual Lirboyo, beliau memiliki ketajaman dalam metodologi istinbath al-hukm (pengambilan keputusan hukum). Di tengah arus liberalisme dan konservatisme ekstrem, sosok faqih (ahli fiqh) yang moderat seperti beliau sangat dibutuhkan untuk memastikan fatwa-fatwa NU tetap relevan namun tidak tercerabut dari akar tradisi.
    "Beliau tidak hanya menghafal teks, tetapi memahami illat (alasan logis) di balik teks tersebut. Kapasitas aliman (berilmu luas) ini menjamin bahwa setiap kebijakan besar PBNU nantinya akan memiliki landasan teologis yang kokoh," ujarnya.
  • Integritas Moral: Zahidan di Tengah Arus Materialisme
    Menurut Kiai Imam, tantangan terbesar pemimpin organisasi besar seperti NU adalah tarikan kepentingan duniawi. Di sinilah atribut Zuhud (kesalehan asketik) Kiai Kafabihi menjadi pembeda. la dikenal sebagai pribadi yang "selesai dengan dirinya sendiri." Sikap zahidan bukan berarti menjauhi dunia, melainkan tidak membiarkan dunia mengendalikan hatinya.
    "Dalam konteks PBNU, ini adalah benteng integritas. Seorang Rais Aam yang zahid akan menjaga marwah organisasi agar tidak terseret dalam pragmatisme politik pendek atau kepentingan transaksional, menjaga NU tetap pada khittah pengabdian umat," katanya.
  • Lirboyo sebagai Episentrum Kultural dan Struktural
    NU tidak bisa dilepaskan dari memahami pesantren, dan membicarakan pesantren di Indonesia mustahil tanpa menyebut Lirboyo -pabrik pencetak ulama.
    "Lirboyo seringkali menjadi titik temu bagi berbagai faksi di NU. Kepemimpinan Kiai Kafabihi akan berfungsi sebagai pemersatu (integrator) yang mampu mencairkan ketegangan antarfaksi karena wibawa kediaman (Lirboyo) yang diakui secara universal oleh warga nahdliyin," kata Kiai Imam.
  • Visi Strategis: Memahami Internal dan Eksternal NU
    Menurut Imam, Kiai Kafabihi bukan tipikal ulama yang hanya "mengurung diri" di dalam kitab. la memiliki kepekaan sosiologis yang tajam. Kiai Kafabihi juga sangat memahami anatomi organisasi NU, dari dinamika syuriah-tanfidziyah hingga psikologi kaum santri.
    "Beliau juga mampu berdialog dengan dunia luar, baik pemerintah maupun Ormas Islam lainnya, tanpa kehilangan identitas kesantriannya. Kemampuan membaca tanda-tanda zaman ini memastikan NU tetap menjadi pemain kunci dalam diplomasi Islam moderat," ujar Kiai Imam.

"Salah satu argumen paling empiris mengenai kecakapan manajerial dan kewibawaan Kiai Kafabihi ialah islah di Lirboyo. Keberhasilan menyatukan berbagai pandangan dalam internal keluarga besar dan alumni Lirboyo adalah prototipe dari apa yang bisa beliau lakukan untuk NU," tuturnya.

"Beliau bisa menjadi jembatan antara kemuliaan masa lalu dan tantangan masa depan. Di tangan ulama yang mumpuni secara intelektual dan kokoh secara spiritual inilah, masa depan jam'iyyah Nahdlatul Ulama berada pada jalur yang benar," imbuh Kiai Imam. (*/jpnn)


Menjelang Muktamar ke-35 NU, sosok KH. Kafabihi Mahrus muncul bukan hanya sebagai kandidat, tetapi..


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |