jpnn.com - JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut ketahanan energi Indonesia relatif terjaga, meskipun Selat Hormuz masih ditutup akibat eskalasi konflik global.
Hal tersebut lantaran tingkat ketergantungan Indonesia terhadap jalur distribusi energi di Selat Hormuz tergolong rendah, yakni berkisar 20 persen.
"Indonesia relatif menjaga ketahanan energi, karena Indonesia juga sebagian besar energi mix, untuk listrik itu berbasis kepada batu bara dan gas, sehingga tentu ini memperkuat resiliensi kita di bidang energi," ujar Airlangga di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (27/4).
Airlangga menyatakan kondisi tersebut sangat kontras dengan situasi negara tetangga lainnya di Asia.
Berdasarkan hasil pertemuan Asia Zero Emission Community, tercatat 70% negara Asia bergantung energi kepada Middle East, kepada Selat Hormuz.
"Beberapa negara lain kami lihat pada saat pertemuan Asia Zero Emission Community, ada 12 negara yang dipimpin oleh Perdana Menteri Kishida," tuturnya.
Di samping ketahanan energi, Airlangga menyatakan stabilitas fundamental ekonomi nasional juga terus mendapatkan pengakuan positif dari berbagai lembaga internasional.
Dia mengeklaim IMF memberikan penilaian positif kepada sistem fiskal Indonesia dan disebut sebagai titik terang ekonomi di kawasan Asia.



















































