jpnn.com - Pengamat sosial ekonomi dan keagamaan Anwar Abbas mengatakan rencana Amerika Serikat (AS) menjadikan Indonesia sebagai pusat pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawat angkut militer C-130 Hercules di kawasan Asia, harus disikapi pemerintah Indonesia dengan hati-hati.
Dia menilai rencana jelas akan menimbulkan banyak masalah bagi Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri.
Menurut tokoh yang beken disapa dengan panggilan Buya Anwar ini, di dalam negeri tentu banyak pihak yang akan mempersoalkan rencana itu.Sebab, dilihat dari perspektif konstitusi kehadiran proyek tersebut jelas akan menyenggol prinsip dasar politik luar negeri bebas aktif seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.
"Di samping itu, melihat sikap dan perilaku politik AS selama ini maka tidak mustahil proyek ini dengan bermodalkan wewenang dan legalitas yang ada, lewat kekuatan ekonomi dan politik serta militer yang mereka miliki, bandara Kertajati bisa bertransformasi menjadi pangkalan militer," kata Buya Anwar, dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2026).
Dia mengatakan bila itu yang terjadi maka akan sangat sulit bagi Indonesia untuk menghentikannya karena berbagai resiko dan konsekuensi akan membentang di depan, apalagi jika mereka sudah berhasil pula menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat dan pos penting di negeri ini.
Begitu juga dalam pergaulan internasional, Buya Anwar menilai Indonesia tentu akan menghadapi banyak masalah karena citra dan jati diri RI sebagai negara yang menjunjung tinggi politik luar negeri bebas aktif, tentu akan rusak sehingga Indonesia tidak lagi akan dipercaya sebagai penengah dalam berbagai konflik yang terjadi karena indonesia sudah dianggap sebagai perpanjangan tangan dari Amerika Serikat.
Yang lebih parah lagi jika terjadi konflik antara Amerika Serikat dengan negara-negara tertentu, maka tidak mustahil Indonesia akan menjadi target potensial bagi musuh-musuh negara Paman Sam tersebut sehingga negeri ini tidak lagi aman karena sudah terseret dan diseret oleh AS ke dalam kancah peperangan yang ada.
"Jadi, kesimpulannya, meskipun proyek ini secara ekonomi dan teknologi akan mendatangkan keuntungan bagi Indonesia, tetapi bila ditimbang-timbang antara maslahat dan mafsadatnya, maka mafsadatnya jelas akan jauh lebih besar daripada maslahatnya," ujar wakil ketua umum MUI itu.


















































