jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Teka-teki di balik perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak di Daycare Little Aresha, Sorosutan, mulai terkuak. Kepolisian Resor Kota (Polresta) Yogyakarta mengungkapkan bahwa motif ekonomi menjadi alasan utama di balik penelantaran dan kekerasan yang terjadi di tempat penitipan anak tersebut.
Hingga saat ini, polisi masih menetapkan 13 orang tersangka dan belum ada penambahan nama baru. Dari total tersangka tersebut, sebelas orang merupakan pengasuh, sementara dua lainnya adalah petinggi yayasan.
Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Eva Guna Pandia mengatakan pihak pengelola diduga mengabaikan standar pengasuhan demi meraup keuntungan finansial yang lebih besar.
"Motif mereka mengejar pemasukan karena makin banyak anak yang dititipkan, makin banyak pemasukan yang mereka terima. Tentu ini masih terus kami dalami lagi," ujar Kombes Pol Eva Guna Pandia dalam konferensi pers, Senin (27/4).
Polisi juga mengonfirmasi bahwa foto-foto yang viral di media sosial, yang menunjukkan anak-anak dalam kondisi terikat, adalah benar terjadi di lokasi tersebut sebagai bagian dari pola pengasuhan yang menyimpang.
Pihak kepolisian telah memetakan peran dari masing-masing tersangka yang kini sedang menjalani pemeriksaan maraton.
Dua petinggi daycare yang jadi tersangka adalah DK (51) selaku Ketua Yayasan dan AP (42) selaku Kepala Sekolah.
Sedangkan sebelas pengasuh lainnya adalah FN (30), NF (26), Lis (34), EN (26), SRm (54), DR (32), HP (47), ZA (30), SRj (50), DO (31), dan DM (28).












.jpeg)





































