jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua fraksi PKS di DPR RI Sukamta menyebut Indonesia harus mengambil posisi sebagai penengah, menyikapi perkembangan terbaru terkait konflik di Timur Tengah (Timteng).
Kabarnya, Iran dan Amerika Serikat tengah membuka ruang mediasi melalui keterlibatan pihak ketiga.
Menurut Sukamta, posisi sebagai penengah masih sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.
"Indonesia harus hadir sebagai honest broker, yakni pihak yang dipercaya semua pihak, dengan tetap menjaga independensi dan tidak terjebak dalam kepentingan geopolitik tertentu,” ujar Sukamta melalui keterangan persnya, Minggu (29/3).
Wakil Ketua Komisi I DPR RI itu menilai momentum pihak berkonflik yang membuka ruang mediasi harus dimanfaatkan untuk mendorong deeskalasi melalui jalur diplomasi konstruktif.
"Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia juga memiliki hubungan baik dengan berbagai kekuatan global, punya posisi strategis untuk mendorong hadirnya negosisasi perdamaian," lanjut Sukamta.
Namun, kata peraih gelar doktor dari University of Salford itu, proses mediasi pihak yang berkonflik sebaiknya dilakukan melalui pendekatan multilateral.
Misalnya, mediasi melibatkan lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), guna memastikan prosesnya inklusif, kredibel, dan berkeadilan.




















































