jpnn.com - Saya sudah berangkulan dengan senior Goenawan Mohamad. Itu terjadi di bulan puasa mendekati Lailatulqadar kemarin.
Mungkinkah Amerika Serikat bermaafan dengan Iran? Mumpung Idulfitri –sangat baik untuk saling memaafkan? Daripada terus berperang yang menyusahkan orang sedunia –termasuk Anda?
Sebenarnya kerukunan Amerika-Iran sangat mungkin. Pernah hampir saja terjadi. Belum lama. Menjelang Lebaran 2015.
Anda masih ingat: kedua negara berunding. Sudah mencapai kata sepakat: Iran mau mengakhiri program nuklir, Amerika mau mencabut sanksi ekonomi.
Akan tetapi Anda sudah tahu: Amerika bukan burung merpati –yang menurut syair sebuah lagu tidak pernah ingkar janji.
Setahun setelah kesepakatan itu Donald Trump terpilih menjadi presiden Amerika. Trump membatalkan perjanjian itu. Konon hanya karena yang membuatnya ialah Presiden Barack Obama.
Iran pun kembali mengaktifkan program nuklirnya. Jalan menuju restoran berubah arah menuju kuburan.
Jangan-jangan Anda lupa: apa, sih, penyebab utama sampai Iran begitu membenci Amerika? Bagaimana riwayat awal kebencian itu? Kok, sampai puluhan tahun Iran konsisten menghujat Amerika sebagai "setan besar?" Konsisten pula meneriakkan yel-yel "Mampuslah Amerika?"

.jpeg)


















































